Angin semilir menyentuh rambut pendek Dian yang lembut. Dian masih mematung
menatap lurus lingkungan sekitar yang nampak sangat tidak familiar. Hari ini
adalah hari kedua Dian menatap langit dari lantai dua rumah ini.
“apa yang kamu lamunkan
Dian?”, tanya seorang pria berbaju hitam.
“ah ternyata kamu Erik,
mengagetkan saja”, jawab Eka.
“kamu akan segera
mendapatkan kembali ingatanmu, tenang saja”, ujarnya dengan lengkungan kecil di
wajahnya.
“hmm, ya”, balas Eka
dengan suara malas.
Dian dan Erik turun ke
lantai dasar untuk sarapan. Tak banyak orang yang ikut dalam sarapan pagi itu.
Hanya mereka berdua dan seorang asisten rumah tangga. Paman Bayu baru saja
berangkat ke luar kota. Dialah yang menjemput Dian dari rumah sakit.
Dian menatap dalam-dalam
gelas kosong di sampingnya. Tak ada bedanya antara dia dan gelas itu. Kosong
dan hampa. Dian mendongak ke wajah Erik. Hanya Eriklah yang terlihat familiar
bagi Eka. Sejak pertama kali Eka datang ke rumah itu, tak ada satupun hal yang
dikenalnya kecuali Erik. Dian memang tak mengingat apapun tentang Erik namun
ada suatu perasaan yang kuat mengalir dalam tubuhnya saat menatap wajah Erik.
“apa rencanamu hari ini
Dian”, tanya Erik.
“aku tak tahu”, jawab Dian
dingin.
“kamu mau di rumah saja
atau ikut denganku?”, tawar Erik.
“maksudmu ikut ke rumah
sakit?”, tanya Dian menegaskan.
“ya tentu saja,
bagaimana?”, tanya Erik penuh harapan.
“gak ah, aku di rumah
saja”, jawab Eka.
“baiklah kalau gitu”,
tutup Erik.
Sebagai seorang dokter spesialis
jantung, Erik berusaha memberikan kontribusi yang baik bagi rumah sakit
tempatnya bekerja dengan memulai bekerja pada pagi hari. Pekerjaan ini adalah
salah satu pekerjaan yang menuntut keseriusan. Hal ini disebabkan pada umumnya
pasien dengan masalah jantung sangat beresiko kematian sehingga penaganan dan
pengobatan yang tepat sangat dibutuhkan dalam menekan angka kematian ini.
Sebelum beranjak pergi
Erik melihat Dian dengan tatapan khawatir. Erik pun berjanji akan segera pulang
jika jadwal kerjanya di rumah sakit telah usai, yaitu pada siang hari. Dian
hanya mengangguk lesu.
Dian berjalan tanpa arah
di rumah itu hingga kakinya berhenti di pinggir kolam renang samping rumah.
Tanpa pikir panjang Dian langsung membuka jaketnya dan segera melompat ke
kolam dengan t-shirt dan celana pendeknya. Dian mengayunkan tangan dan kakinya
hingga akhirnya dia berada di sisi kolam yang lain. Dian tertawa puas dengan
usahanya itu. Dian kembali mengulangnya hingga berkali-kali. ‘hobiku adalah
berenang’ gumam Dian dalam hati.
Dian bangkit dari kolam
dan segera mengeringkan dirinya. Dian melihat sekitar dan mencoba mencari hal
yang ingin dilakukan berikutnya. Mata Dian tertuju pada sebuah foto lama
pernikahan sepasang pengantin baru. Dian teringat penjelasan Erik kemarin
tentang foto itu. pengantin pria adalah ayah mereka sedangkan pengantin wanita
adalah ibu Erik. Ini adalah pernikahan ayahnya yang kedua tanpa persetujuan
istri pertama. Ibu Dian yang baru mengetahui berita itu langsung meminta cerai
dari suaminya. Dian tak pernah lagi bertemu sang ayah sejak usia 8 tahun itu. Hal
itu tetap berlangsung hingga Dian ditinggal mati oleh neneknya beberapa bulan
yang lalu setelah terlebih dahulu ditinggalkan oleh ibunya pada usia 15 tahun.
Setelah itu barulah sang ayah datang untuk mengajak Dian tinggal bersamanya.
Itulah kisah singkat yang diceritakan Erik sebagai latarbelakang masa lalu Dian
yang tidak dapat diingatnya.
Dian beralih ke foto yang
lain, foto Erik dengan pose ceria di antara semak belukar. Tiba-tiba Dian
mendapatkan sebuah potongan ingatan tentang Erik yang berdiri di dalam sebuah
ruangan dengan cat bercorak batik yang berwarna coklat dan Erik menatap kepadanya
yang sedang berada di lantai. Dian tiba-tiba merasa sangat pusing. Dian
memegang erat meja hias di depannya, berusaha untuk tidak jatuh. Perlahan
kesadarannya kembali, namun Dian masih terpana dengan ingatannya itu.
Tumpukan DVD menjadi
incaran Dian berikutnya. Segera dia memilah-milah film yang dianggapnya
menarik. Terkumpullah 3 film dengan genre action yang penuh dengan adegan tembak
dan darah. Dian menikmati film itu dari awal hingga akhir tanpa melewatkan
satupun adegan. Bahkan Dian sempat bergumam ‘kenapa terlambat sih!’ saat dia
melihat adegan polisi yang baru muncul saat sang tokoh telah menyelesaikan
masalah. Dian terlihat puas dengan film yang pertama diputarnya itu, saatnya
melanjutkan ke film kedua, namun tiba-tiba potongan ingatan kembali menyerangnya,
Dian melihat pistol dan mendengar letusannya. Suara itu terasa sangat nyata dan
menyeramkan. Potongan ingatan itu muncul dalam beberapa gambar yang berbeda
namun masih objek yang sama yaitu pistol dan ledakannya. Dian berpikir keras
tentang itu dan sebuah pentanyaan muncul dalam otaknya, ‘apakah aku memiliki
hobi lain dengan pistol?’
Dian masih tak bisa
menjawab pertanyaannya itu. secara logika Dian tak bisa menghubungkan itu
dengan profesinya yang diceritakan oleh Erik yaitu sebagai guru SD di sebuah
desa. Hal apa saja yang sebenarnya pernah terjadi pada Dian?. Apakah ada suatu
kejadian yang mengerikan sebelum dia kehilangan ingatannya?.
Seperti yang telah
dijanjikan Erik sebelumnya dia langsung pulang setelah selesai bertugas. Dian
telah menunggunya sejak 15 menit yang lalu di depan meja makan, berharap Erik
pulang untuk makan siang. Erik terlihat senang dengan itu dan langsung menyapa
Dian dan memeluknya, Dian merasa canggung dengan sikap Erik tersebut dan segera
menggeliatkan tubuhnya sebagai sinyal untuk melepaskannya. Erik menyadari itu
dan segera melepaskan pelukannya.
“aku rasa kita tak seakrab
itu untuk berpelukan, bukan?”, ujar Dian kesal.
“maafkan aku Dian”, kata
Erik dengan nada bersalah.
“aku hanya berpikir kita
bisa memulai kembali dengan sesuatu yang lebih baik”, lanjutnya dan segera
duduk.
Dian tak mengatakan
sepatah kata pun setelah itu. Erik pun diam dan berharap Dian segera melupakan
kejadian tadi. Dian menyadari secara logika pastilah dia sangat membenci Erik
karena ibu Erik yang telah membuat kacau keluarganya. Hanya saja Dian tak
merasa membenci Erik, dia merasa kesal saat itu karena ada suatu perasaan tak
karuan di hatinya yang mengalir begitu kuat. Namun Dian tak mampu mengatakan
itu pada Erik dia hanya melampiaskannya dalam suatu kekesalan yang aneh.
Makan siangpun berakhir
dingin. Dian pun segera beranjak dari kursinya dan segera menuju kamar. Erik
hanya melihat Dian berlalu dengan wajah penuh penyesalan. Hampir dua jam Dian
mengurung diri di kamarnya. Akhirnya pintu itu terbuka dan terlihat Dian yang
menunduk lesu keluar. Dia segera mencari Erik namun tak kunjung menemukannya.
Ternyata Erik berada di ruangan samping yaitu studio lukisan. Dian melihat Erik
sedang asyik dengan kanvas di depannya. Dian mendekatinya perlahan.
“hai”, sapa Dian.
“hai”, jawab Erik sambil
terus melukis.
“hmmm kamu bisa melukis
ya?,”tanya Dian basa-basi.
“ya, lumayan”, jawab Erik
dengan senyuman khasnya.
“oh ya, aku rasa sikapku
tadi agak berlebihan, kamu benar mungkin kita harus memulai ini dengan lebih
baik”, jelas Dian menyesal.
“aku yang salah, harusnya
kita mulai dari hal yang lebih sederhana dulu”, kata Erik.
“kalau begitu mari kita
mulai, ngomong-ngomong kamu lagi melukis apa?’, tanya Dian sambil melirik
lukisan Erik.
“sesuatu yang akan terjadi
di masa depan”, jawab Erik dengan nada bercanda.
“wow kamu bisa meramal?”,
tanya Dian heran.
“hehehe, bukan begitu, ini
adalah rencana yang telah kusiapkan untuk masa depan, aku selalu membuat sebuah
lukisan masa depan sesuai rencanaku”, terang Erik.
“dan lukisan itu menjadi
nyata?”, canda Dian.
“seringnya iya”, jawab
Erik dengan tatapan tajam.
Dian mengamati lukisan
itu, tak ada subjek di sana hanya sebuah pemandangan taman yang penuh dengan
daun berguguran.
“lalu apa maksud lukisan
ini? Apa rencanamu?,”tanya Dian penasaran”.
“aku dan kamu akan pergi
ke tempat ini”, jawabnya Erik.
“untuk apa?”, selidik
Dian.
“untuk memperbaiki
hubungan kita dan menyelesaikan sebuah puzzle”, jawab Erik yakin
“kapan?” tanya Dian
“sekarang, ayo kita
berangkat”, ajak Erik sambil menarik tangan Dian dan segera meninggalkan
ruangan itu.
Dian masih merasa bingung
dengan pekataan Erik tadi. Erik sepertinya telah menduga bahwa Dian akan segera
menemuinya untuk berbaikan. Dian pun tak menolak saat dirinya ditarik ke mobil
Erik yang segera melaju entah kemana, dia seperti terhipnotis. Dian menatap Erik
yang sedang mengemudikan mobil, Erik pun meliriknya dan Dian segera membuang
muka ke jendela. Terasa sentuhan hangat di bahu Dian yang membuatnya terkejut,
ternyata itu adalah tangan Erik. Dian segera menoleh ke arahnya, Erik hanya
tersenyum polos. Dian mencium bau parfum Erik dari lengan bajunya itu. Dian
seakan ingat bau itu, sesuatu yang ada diingatannya yang hilang. Dian kembali
menatap Erik dan tiba-tiba potongan ingatan kembali menghapiri Dian. Erik
kembali muncul dalam ingatan Dian, Erik berada sangat dekat dengan Dian, dia
berada di depan Dian dan Dian memeluknya erat. Suasananya sangat aneh, Dian
mengingat tembok putih dengan tangga kecil yang melekat padanya. Dian seakan
tak percaya dengan potongan ingatan itu, mungkinkah itu hanya bagian dari
mimpinya atau sebuah ingatan masa lalunya?.
“Erik, apa kita pernah
terlibat dalam situasi yang cukup dekat sebelum ini?, tanya Dian penasaran.
“maksudmu?”, tanya Erik
bingung.
“iya, sesuatu seperti
berpelukan, sesuatu yang sedekat itu”
“oh itu, ya ada sekali,
tapi aku tak ingin menceritakannya padamu, aku takut kamu marah”, jawab Erik.
“kenapa aku marah?”, tanya
Dian tak puas.
“mungkin bagimu itu adalah
ingatan buruk, lebih baik kamu melupakannya”
Dian tak mengerti dengan
perkataan Erik itu. Apakah cerita masa lalunya bersama Erik begitu buruk. Dian
mulai khawatir dengan ingatannya, dia takut saat ingatannya kembali hubungannya
dengan Erik kembali rusak. Erik terlihat menyimpan cerita lain dari hidup Dian.
Dia berusaha menutupi sesuatu yang dianggapnya buruk.
Erik menepikan mobilnya di
sebuah taman yang dipenuhi pepohonan yang sedang gugur. Angin semilir yang
datang menjatuhkan satu persatu dedaunan tua. Dian terpana melihat suasana itu.
Tepat ketika mereka berdiri di depan papan Wellcome Dian seakan sedang menatap
lukisan Erik tadi. Pohon yang berjejer
rapi, dedauan yang berguguran dan warna jingga langit sore yang terlihat sama
dengan suasana yang sedang dinikmatinya.
“ayo kita mulai”, ajak
Erik bersemangat.
“mulai apa?”, tanya Eka
bingung.
“mengumpulkan dedauan
kering dengan kombinasi warna coklat, hijau, kuning”, kata Erik.
“daun? Untuk apa?”
“kamu lupa Dian, untuk
Puzzle”
“oh ya, aku lupa kamu
telah mengatakannya tadi”
Dian terlihat bersemangat
memilah-milah daun yang sesuai dengan perintah Erik. Erik mulai menggoda Dian
dengan menyodorkan daun kering yang dihinggapi ulat. Dian langsung lari menjauh
dan membalas Erik dengan melempar ranting pohon. Mereka tampak menikmati
suasana sore di sana.
Tiba-tiba smartphone Erik
berbunyi, wajah Erik langsung berubah dingin. Tak jelas siapa yang
mengubunginya hanya saja dia menjawab dengan kata ‘Ok’.
“Dian, aku ada urusan
mendadak, kamu pulang naik taksi saja ya, aku sudah pesankan”, jelas Erik
singkat.
“baiklah”, jawab Dian.
Dian tak punya pilihan
lain, Erik segera pergi meninggalkan Dian yang masih menuggu taksi. Dian pun
sampai di rumah dengan membayar taksi menggunakan kartu gesek Erik yang tadi
sempat diberikannya.
Dian menunggu Erik untuk
makan malam hingga larut. Jarum jam telah pindah pada angka 11 namun Erik masih
belum terlihat. Dian melihat ke jendela dan berharap mobil Erik telah parkir di
sana namun harapan tinggal harapan. Dian akhirnya masuk ke kamarnya dan segera tidur.
Esok hari Dian telah
menunggu Erik di meja makan untuk sarapan tapi Erik masih juga belum muncul.
Asisten rumah tangga memberitahunya bahwa Erik telah berangkat kerja tadi pagi.
Sontak Dian terkejut karena Erik telah pergi lagi. Dian kemudian menghabiskan
waktu dengan mengamati lukisan-lukisan Erik. Dimulai dari lukisan pohon dengan
daun yang berguguran waktu itu, Dian melihat angka-angka yang ditempatkan di
pojok kanan bawah lukisan. Angka itu adalah tanggal kemarin. Apakah itu artinya
lukisan itu dibuat pada tanggal itu atau telah menjadi kenyataan pada tanggal
itu?. Dian segera melihat lukisan-lukisan yang lain, terdapat dua tanggal pada
lukisan yang lain, seperti tanggal pembuatan dan tanggal telah realisasinya. Dian
mulai mengamati lukisan yang lain, terlihat lukisan sebuah cafe kopi yang
terlihat familiar bagi Dian, di sana terlihat juga beberapa orang yang
mengenakan pakaian seperti seragam kepolisian sedang menikmati minumannya. Dian
melirik tanggal, tanggal pembuatannya hanya berselang 1 bulan lebih sedikit dari
tanggal realisasinya. Tahun lukisan itu sudah cukup lama yaitu sekitar dua
tahun yang lalu.
Apa maksud lukisan itu?
Apakah Erik sedang menjalanjan bisnis cafe kopi? Dian beranjak ke lukisan yang
lain, namun tiba-tiba suara pria mengejutkan Dian.
“hai”, sapa Erik.
“h-hai”, sapa Dian gugup.
“kamu suka lukisanku?,
tanya Erik.
“hmm ya, lukisannya bagus,
oh kenapa dengan tanganmu?”, tanya Dian panik saat melirik pada lengan kiri
Erik yang diperban.
“di rumah sakit?”, Dian
memastikan.
“bukan, sudahlah jangan
dihiraukan, ini hanya luka kecil”, jawab Erik sambil berlalu meninggalkan Dian.
Beberapa saat kemudian
Erik datang kembali dengan sebuah kotak. Dia berjalan menuju sesuatu yang
sangat besar dan tertutup kain putih, sangat besar untuk disebut sebuah
lukisan. Erik melepaskan kain itu dan terlihatlah apa yang sebenarnya ada di
balik itu. Sebuah sketsa lukisan yang sangat besar dengan gambar dua tangan
yang saling berpegangan.
“ayo kita mulai proyek ini”,
ajak Erik.
“proyek apa?”, tanya Dian
bingung.
“proyek puzzle kita”,
jawab Erik dengan menyunggingkan senyuman tipisnya.
Dalam kotak itu terdapat
dedaunan berbagai bentuk dan warna, Dian ingat beberapa diantaranya adalah
dedaunan yang diambilnya bersama Erik di taman kemarin. Dian tampak bingung untuk
melakukannya, namun Erik terus membimbingnya. Perlahan Dian mulai mengerti
konsep dalam menyusun puzzle hingga tercipta perpaduan warna yang pas. Mereka berdua
asyik menempelkan potongan daun ke atas sketsa itu.
“kenapa kamu membuat
sketsa ini? Apa artinya bagimu? Apakah ini juga masa depan yang sedang kamu
rencanakan?’, tanya Dian penuh selidik.
“hmmm puzzle ini hanya
sebuah harapan, bukan masa depan, ini tak akan menjadi kenyataan”, jawab Erik
kalem.
Dian memandangi puzzle
itu, dua tangan yang saling berpegangan seperti melambangkan bersatunya dua
insan dalam satu ikatan. Dian terus berpikir tentang itu.
“apakah puzzle ini
menceritakan tentang harapan untuk bersatu?”, Duga Dian.
“yah, kira-kira seperti
itu, kamu cepat sekali memahaminya”, jawab Erik.
“Erik, apakah wanita yang
kamu cintai telah tiada?”
“bukan seperti itu”
“lalu?”
“aku dan dia tak akan
bersatu karena kami adalah sisi yang berbeda”
“maksudmu?”
“ah, sudahlah, tak ada
gunanya kita membahas itu, hanya menambah rasa penyesalan saja”
“kamu menyesal
mencintainya?”
“bukan itu, aku hanya
menyesal menjadi diriku”
Dian masih tak mengerti
dengan pernyataan Erik yang masih sangat membingungkan itu. Tapi Dian tak
berniat untuk meneruskan pertanyaannya. Walaupun mereka bersaudara bukan
berarti Dian berhak tahu semua cerita kehidupan Erik. Dian pun mengubah topik
pembicaraan tentang lukisan cafe kopi yang pernah dilihatnya sebelumnya.
“oh ya lukisan cafe kopi
yang itu (sambil menunjuk) adalah bisnismu ya?”
“kenapa kamu bisa tahu?”,
tanya Erik kaget.
“ya, karena aku pintar”,
canda Dian.
“hehehe, aku rasa kamu
tidak pintar, tapi kuat, karena itu aku menyukaimu”
“kuat? Maksudmu?”
“aku hanya bercanda, tapi
serius kenapa kamu bisa mengetahuinya?”
“dari tanggal yang ada di
sana, dan dari cerita kamu kemarin bahwa setiap lukisanmu adalah masa depan”
“oh, hmmm ya itu analisis
yang bagus”
Dian mulai merasa nyaman dengan kehadiran Erik di sampingnya. Dia menatap
dalam-dalam wajah Erik yang agak cekung, berharap kenangan yang telah hilang
kembali muncul. Erik menyadari tatapan itu.
“kamu sudah bosan ya?”,
tanya Erik.
“oh.. gak kok”, aku Dian.
“kamu ingin melakukan hal
yang lain?”
“hmmm hal yang lain, apa
ya?”
Dian mencoba mencari
kegiatan lain yang sepertinya menarik untuk dilakukan sore ini. Dian teringat
kolam renang, dia mengajak Erik untuk berengan bersama. Erik menerima ajakan
itu dengan senang hati.
“kamu bisa berenang?”,
tanya Erik
“ya, tentu saja”, jawab
Dian dengan bangga
“kalau begitu kita harus
bertanding siapa yang pantas dijuluki master renang di rumah ini”, canda Erik.
“Ok, siapa takut”, tantang
Dian.
Mereka telah berdiri di
tepi kolam dan melakukan sedikit pemanasan agar tidak kram. Erik terlebih
dahulu membuka baju. Dian yang berada di samping sontak terkejut.
“ya ampun, tubuhmu penuh
bekas luka”, ucap Dian kaget.
“ah yah, aku senang
berpetualang jadi sering luka”, jawab Erik
“berpetualang apa maksudmu?”,
tanya Dian sambil mengerutkan kening.
“sesuatu yang ingin kita
taklukkan, ya pokoknya sesuatu yang menantang”, jelas Erik asal.
Luka di tubuh Erik sangat
beragam, luka membujur horizontal, luka bulat sempurna dan luka bakar. Dari sekian
banyak luka itu ada sebuah luka yang mencuri perhatian Dian, tatapannya tak
beranjak dari luka itu, luka yang berada di rusuk kirinya.
“apa yang terjadi dengan
rusukmu itu?”, tanya Dian penasaran.
“patah karena kecelakaan”,
jawab Erik singkat dan langsung terjun ke kolam.
Melihat Erik telah berada
di kolam, Dian pun segera membuka baju luarnya dan segera menyusul Erik. Mereka
mulai berlomba, Dian memonopoli kemenangan pada pertandingan itu. Gelar master
pun dipegang oleh Dian. Tak terima dengan kekalahannya Erik melempar-lempar air
ke arah Dian. Mereka pun terlibat pertempuran air yang sengit. Merasakan indahnya
kegiatan hari ini Dian yakin hubungan mereka berdua akan menjadi lebih baik
nantinya.
Tak lama kemudian mereka
pun menghentikan kegiatan itu. Erik kembali harus meninggalkan Dian di rumah. Andai
saja kedua orang tua Erik ada di rumah mungkin Dian tak akan kesepian,
sayangnya mereka harus menetap di luar kota untuk waktu yang cukup lama karena
tuntutan pekerjaan. Sejak Dian memulai kehidupan dengan ingatan yang baru ini,
dia belum pernah bertemu dengan sang ayah ataupun ibu Erik.
Asisten rumah tangga telah
pulang dari tadi sore, Dian hanya tinggal sendiri di rumah menunggu Erik segera
pulang. Bosan dengan keadaan yang sunyi di sini, Dian pun memutuskan untuk
menonton televisi. Malam ini ternyata jadwal tayang untuk sinetron, beberapa
stasiun televisi bahkan menayangkan sinetron impor Turki dan India. Dian
sepertinya tidak begitu tertarik dengan sinetron, dia terus menukar-nukar
siaran. Akhirnya dia berhenti di sebuah stasiun televisi yang sedang
menayangkan berita. Itu adalah berita tentang kecelakaan dua Bus yaitu Bus Sari
Sejati dengan Bus Indah Pelita. Dian ingat, Erik telah menceritakan bahwa Dian
kehilangan ingatan karena kecelakaan Bus
saat menumpangi Bus Indah Pelita. Meskipun mengalami amnesia Dian sama
sekali tak mengalami luka yang serius, hanya memar di bagian kepala. Kecelakaan
itu terjadi lima hari yang lalu. Banyaknya korban tewas dan luka bakar yang menjadi
berita kecelakaan itu masih hangat untuk ditayangkan di televisi. Kecelakaan itu
menimbulkan spekulasi yang menarik bagi para pengamat karena adanya dugaan aksi
bunuh diri sopir Bus Sari Sejati. Polisi sedang menyelidiki kediaman dan keluarga
dari sopir yang ikut tewas dalam kecelakaan itu. Selain itu beberapa orang
dilaporkan hilang karena banyak mayat yang masih belum dapat diidentifikasi.
Dian bersyukur masih bisa selamat dari kecelakaan yang mengerikan itu, tabrakan
yang diikuti ledakkan.
Setelah puas menonton acara berita Dian teringat lukisan-lukisan Erik yang
berada di studio. Masih banyak lukisan yang belum dilihatnya, Dian sangat
tertarik mengetahui apa-apa saja yang telah terwujud menjadi kenyataan. Dian
merasa kecewa setelah sampai di depan pintu studio, pintu itu terkunci, sayang
sekali. Dian pun memutar langkahnya ke kamar Erik. Dian berharap beberapa lukisan
juga disimpan di kamar itu. Namun harapan Dian hanya tinggal harapan. Kamar Erik
terlihat sangat bersih dari unsur lukisan. Sebuah kamar dengan atribut yang
sangat minim, tempat tidur, lemari dan sebuah meja lampu. Dian merebahkan
tubuhnya ke atas kasur yang terasa sangat empuk. Dia menatap langit-langit yang
bercat putih. Kemudian dia memutar tubuhnya menghadap ke bantal di sampingnya.
Dian berpikir sejenak tentang masa depannya. Apa yang harus dilakukannya untuk
memulai kehidupan baru ini? ‘Mungkin aku harus kembali memulai dari
pekerjaanku, aku akan kembali menjadi guru SD’, gumam Dian dalam hari. Hanya saja
semua barang-barang penting Dian telah hangus terbakar saat kecelakaan itu.
Hari kecelakaan itu adalah hari disaat Dian dan Erik bertengkar, Dian
memutuskan untuk pulang kembali ke rumah neneknya dengan menumpangi Bus Pelita
Indah. Sehingga tak ada satupun barang-barang Dian yang tersisa di rumah itu. Begitulah
cerita Erik untuk memberikan alasan pada Dian. Tapi kehilangan ijazah itu tak
akan menghambat untuk Dian bisa kembali bekerja, dia hanya perlu kembali ke
universitasnya untuk meminta ijazah kembali, meskipun akan memakan waktu yang
cukup lama. Dian telah memantapkan niatnya untuk kembali mengurus ijazahnya
esok hari.
Dian mengambil sebuah
bantal di atas kasur itu dan segera memeluknya. Di balik bantal itu terlihat
sebuah buku gambar yang langsung menarik perhatiannya. Dian segera mengambil
dan membukanya. Halaman pertama terlihat sebuah lukisan dengan pensil tanpa
warna yang menggambarkan situasi kota yang sibuk, terlihat mobil memenuhi jalan
dan jembatan. Dian melihat ada dua tanggal pada gambar itu, hanya berselang
sehari. Dari tanggal itu menunjukkan kejadian itu telah terjadi enam bulan yang
lalu. Apa maksud dari gambar itu, tak ada yang aneh dengan kesibukan sebuah
kota. Mungkin saja Erik berharap bisa mengunjungi kota itu dan harapan itu
terwujud besoknya. Dian melanjutkan membalik halaman buku itu. Dian kaget dan
langsung bangun dari posisi berbaringnya. Dian menatap tak percaya gambar itu.
sebuah rumah yang penuh dengan api yang sedang menyala dengan marahnya. Selang waktunya
adalah tiga hari, telah terjadi tiga bulan yang lalu. Dian merinding melihat
gambar itu. Dian kembali membalik halaman pertama dan mengamati gambar itu
kembali, terlihat sebuah goresan. Ternyata itu menggambarkan sebuah mobil yang
meluncur dari jembatan. Dian merasa tak percaya dengan pemahamannya sendiri. Dia
segera membalik halaman lain, gambar mayat yang tergeletak berserakan disebuah
ruangan segera memacu kencang detak jantungnya. Dengan nafas yang berat Dian
membalik halaman buku itu, sebuah gambar gedung mall bernama “The Rimbang”
dipenuhi mobil polisi. Dian merasa mengenal gedung itu. Potongan ingatan Dian
kembali bermunculan, seorang gadis kecil menutup telinga dengan tubuh yang
menggigil ketakukan, orang-orang berlari ketakutan. Rombongan orang berbaju
biru tua menodongkan senjata ke arah mereka. Dian diserang ingatannya secara
brutal. Seorang dari rombongan itu menodongkan senjatanya pada Dian dan mereka
pergi menjauh dari keramaian itu. Dian menendang orang bertopeng itu dengan
tangan diborgol. Terdengan jeritan kesakitan dan darah segar membasahi pakaian
orang itu. Segera dia melepaskan topengnya dan wajah Erik terlihat jelas di
ingatan Dian itu. Tarikan nafas Dian terasa sangat cepat, tubuhnya mulai
menggigil ketakutan. Tiba-tiba suasan langsung berubah gelap. Dian kehilangan
penglihatannya, sesuatu yang kuat memegang tubuhnya, dia langsung kesulitan
untuk bernafas seperti ada yang telah menutup mulut dan hidungnya.
Dian membuka matanya
terlihat sinar matahari telah memasuki kamarnya. Diliriknya jam di atas meja,
jarumnya telah menunjukkan angka 9. Dian masih menggeliatkan tubuhnya dengan
malasnya. Akhirnya Dian pun bangkit dan membuka pintu kamarnya. Alangkah terkejutnya
dia saat melihat tak ada satupun perabot yang tersisa di rumah itu. Dian segera
berlari ke kamar Erik yang ternyata juga telah kosong. Dia kembali ke kamarnya
yang masih seperti sebelumnya. Di atas meja terlihat secarik kertas dan kantong
plastik.
Terima kasih untuk semuanya, kita akan bertemu lagi (Hero)
‘Hero’? Dian sangat
mengenal nama itu tapi siapa? Dimana?. Segera dibukanya kantong plastik itu
yang ternyata berisi beberapa barang diantaranya: jam tangan, tas, dompet, dan
smartphone yang telah pecah lcd nya. Langsung saja Dian membuka dompet itu dan
menemukan sebuah kartu identitas yang membuatnya terpana tak percaya. Identitas
dengan foto dirinya namun dengan nama Eka Fitri. Kilasan balik masa depannya
terlihat melintas di dalam otaknya dengan kecepatan yang tak terkendali. Dian
tak kuasa menahan rasa sakit di kepalanya hingga dia kehilangan kesadaran.
>>>>>>>bersambung ke part 2
cast:
1. Dian
2. Erik






No comments:
Post a Comment