Saturday, 14 November 2015

Sisi yang Berbeda (part 1 - Penculikan Eka)


             Angin semilir menyentuh rambut pendek Dian yang lembut. Dian masih mematung menatap lurus lingkungan sekitar yang nampak sangat tidak familiar. Hari ini adalah hari kedua Dian menatap langit dari lantai dua rumah ini.
            “apa yang kamu lamunkan Dian?”, tanya seorang pria berbaju hitam.
            “ah ternyata kamu Erik, mengagetkan saja”, jawab Eka.
            “kamu akan segera mendapatkan kembali ingatanmu, tenang saja”, ujarnya dengan lengkungan kecil di wajahnya.
            “hmm, ya”, balas Eka dengan suara malas.
            Dian dan Erik turun ke lantai dasar untuk sarapan. Tak banyak orang yang ikut dalam sarapan pagi itu. Hanya mereka berdua dan seorang asisten rumah tangga. Paman Bayu baru saja berangkat ke luar kota. Dialah yang menjemput Dian dari rumah sakit.
            Dian menatap dalam-dalam gelas kosong di sampingnya. Tak ada bedanya antara dia dan gelas itu. Kosong dan hampa. Dian mendongak ke wajah Erik. Hanya Eriklah yang terlihat familiar bagi Eka. Sejak pertama kali Eka datang ke rumah itu, tak ada satupun hal yang dikenalnya kecuali Erik. Dian memang tak mengingat apapun tentang Erik namun ada suatu perasaan yang kuat mengalir dalam tubuhnya saat menatap wajah Erik.
            “apa rencanamu hari ini Dian”, tanya Erik.
            “aku tak tahu”, jawab Dian dingin.
            “kamu mau di rumah saja atau ikut denganku?”, tawar Erik.
            “maksudmu ikut ke rumah sakit?”, tanya Dian menegaskan.
            “ya tentu saja, bagaimana?”, tanya Erik penuh harapan.
            “gak ah, aku di rumah saja”, jawab Eka.
            “baiklah kalau gitu”, tutup Erik.
            Sebagai seorang dokter spesialis jantung, Erik berusaha memberikan kontribusi yang baik bagi rumah sakit tempatnya bekerja dengan memulai bekerja pada pagi hari. Pekerjaan ini adalah salah satu pekerjaan yang menuntut keseriusan. Hal ini disebabkan pada umumnya pasien dengan masalah jantung sangat beresiko kematian sehingga penaganan dan pengobatan yang tepat sangat dibutuhkan dalam menekan angka kematian ini.
            Sebelum beranjak pergi Erik melihat Dian dengan tatapan khawatir. Erik pun berjanji akan segera pulang jika jadwal kerjanya di rumah sakit telah usai, yaitu pada siang hari. Dian hanya mengangguk lesu.

            Dian berjalan tanpa arah di rumah itu hingga kakinya berhenti di pinggir kolam renang samping rumah. Tanpa pikir panjang Dian langsung membuka jaketnya dan segera melompat ke kolam dengan t-shirt dan celana pendeknya. Dian mengayunkan tangan dan kakinya hingga akhirnya dia berada di sisi kolam yang lain. Dian tertawa puas dengan usahanya itu. Dian kembali mengulangnya hingga berkali-kali. ‘hobiku adalah berenang’ gumam Dian dalam hati.
            Dian bangkit dari kolam dan segera mengeringkan dirinya. Dian melihat sekitar dan mencoba mencari hal yang ingin dilakukan berikutnya. Mata Dian tertuju pada sebuah foto lama pernikahan sepasang pengantin baru. Dian teringat penjelasan Erik kemarin tentang foto itu. pengantin pria adalah ayah mereka sedangkan pengantin wanita adalah ibu Erik. Ini adalah pernikahan ayahnya yang kedua tanpa persetujuan istri pertama. Ibu Dian yang baru mengetahui berita itu langsung meminta cerai dari suaminya. Dian tak pernah lagi bertemu sang ayah sejak usia 8 tahun itu. Hal itu tetap berlangsung hingga Dian ditinggal mati oleh neneknya beberapa bulan yang lalu setelah terlebih dahulu ditinggalkan oleh ibunya pada usia 15 tahun. Setelah itu barulah sang ayah datang untuk mengajak Dian tinggal bersamanya. Itulah kisah singkat yang diceritakan Erik sebagai latarbelakang masa lalu Dian yang tidak dapat diingatnya.
            Dian beralih ke foto yang lain, foto Erik dengan pose ceria di antara semak belukar. Tiba-tiba Dian mendapatkan sebuah potongan ingatan tentang Erik yang berdiri di dalam sebuah ruangan dengan cat bercorak batik yang berwarna coklat dan Erik menatap kepadanya yang sedang berada di lantai. Dian tiba-tiba merasa sangat pusing. Dian memegang erat meja hias di depannya, berusaha untuk tidak jatuh. Perlahan kesadarannya kembali, namun Dian masih terpana dengan ingatannya itu.
            Tumpukan DVD menjadi incaran Dian berikutnya. Segera dia memilah-milah film yang dianggapnya menarik. Terkumpullah 3 film dengan genre action yang penuh dengan adegan tembak dan darah. Dian menikmati film itu dari awal hingga akhir tanpa melewatkan satupun adegan. Bahkan Dian sempat bergumam ‘kenapa terlambat sih!’ saat dia melihat adegan polisi yang baru muncul saat sang tokoh telah menyelesaikan masalah. Dian terlihat puas dengan film yang pertama diputarnya itu, saatnya melanjutkan ke film kedua, namun tiba-tiba potongan ingatan kembali menyerangnya, Dian melihat pistol dan mendengar letusannya. Suara itu terasa sangat nyata dan menyeramkan. Potongan ingatan itu muncul dalam beberapa gambar yang berbeda namun masih objek yang sama yaitu pistol dan ledakannya. Dian berpikir keras tentang itu dan sebuah pentanyaan muncul dalam otaknya, ‘apakah aku memiliki hobi lain dengan pistol?’
            Dian masih tak bisa menjawab pertanyaannya itu. secara logika Dian tak bisa menghubungkan itu dengan profesinya yang diceritakan oleh Erik yaitu sebagai guru SD di sebuah desa. Hal apa saja yang sebenarnya pernah terjadi pada Dian?. Apakah ada suatu kejadian yang mengerikan sebelum dia kehilangan ingatannya?.
            Seperti yang telah dijanjikan Erik sebelumnya dia langsung pulang setelah selesai bertugas. Dian telah menunggunya sejak 15 menit yang lalu di depan meja makan, berharap Erik pulang untuk makan siang. Erik terlihat senang dengan itu dan langsung menyapa Dian dan memeluknya, Dian merasa canggung dengan sikap Erik tersebut dan segera menggeliatkan tubuhnya sebagai sinyal untuk melepaskannya. Erik menyadari itu dan segera melepaskan pelukannya.
            “aku rasa kita tak seakrab itu untuk berpelukan, bukan?”, ujar Dian kesal.
            “maafkan aku Dian”, kata Erik dengan nada bersalah.
            “aku hanya berpikir kita bisa memulai kembali dengan sesuatu yang lebih baik”, lanjutnya dan segera duduk.
            Dian tak mengatakan sepatah kata pun setelah itu. Erik pun diam dan berharap Dian segera melupakan kejadian tadi. Dian menyadari secara logika pastilah dia sangat membenci Erik karena ibu Erik yang telah membuat kacau keluarganya. Hanya saja Dian tak merasa membenci Erik, dia merasa kesal saat itu karena ada suatu perasaan tak karuan di hatinya yang mengalir begitu kuat. Namun Dian tak mampu mengatakan itu pada Erik dia hanya melampiaskannya dalam suatu kekesalan yang aneh.
            Makan siangpun berakhir dingin. Dian pun segera beranjak dari kursinya dan segera menuju kamar. Erik hanya melihat Dian berlalu dengan wajah penuh penyesalan. Hampir dua jam Dian mengurung diri di kamarnya. Akhirnya pintu itu terbuka dan terlihat Dian yang menunduk lesu keluar. Dia segera mencari Erik namun tak kunjung menemukannya. Ternyata Erik berada di ruangan samping yaitu studio lukisan. Dian melihat Erik sedang asyik dengan kanvas di depannya. Dian mendekatinya perlahan.

            “hai”, sapa Dian.
            “hai”, jawab Erik sambil terus melukis.
            “hmmm kamu bisa melukis ya?,”tanya Dian basa-basi.
            “ya, lumayan”, jawab Erik dengan senyuman khasnya.
            “oh ya, aku rasa sikapku tadi agak berlebihan, kamu benar mungkin kita harus memulai ini dengan lebih baik”, jelas Dian menyesal.
            “aku yang salah, harusnya kita mulai dari hal yang lebih sederhana dulu”, kata Erik.
            “kalau begitu mari kita mulai, ngomong-ngomong kamu lagi melukis apa?’, tanya Dian sambil melirik lukisan Erik.
            “sesuatu yang akan terjadi di masa depan”, jawab Erik dengan nada bercanda.
            “wow kamu bisa meramal?”, tanya Dian heran.
            “hehehe, bukan begitu, ini adalah rencana yang telah kusiapkan untuk masa depan, aku selalu membuat sebuah lukisan masa depan sesuai rencanaku”, terang Erik.
            “dan lukisan itu menjadi nyata?”, canda Dian.
            “seringnya iya”, jawab Erik dengan tatapan tajam.
            Dian mengamati lukisan itu, tak ada subjek di sana hanya sebuah pemandangan taman yang penuh dengan daun berguguran.

            “lalu apa maksud lukisan ini? Apa rencanamu?,”tanya Dian penasaran”.
            “aku dan kamu akan pergi ke tempat ini”, jawabnya Erik.
            “untuk apa?”, selidik Dian.
            “untuk memperbaiki hubungan kita dan menyelesaikan sebuah puzzle”, jawab Erik yakin
            “kapan?” tanya Dian
            “sekarang, ayo kita berangkat”, ajak Erik sambil menarik tangan Dian dan segera meninggalkan ruangan itu.
            Dian masih merasa bingung dengan pekataan Erik tadi. Erik sepertinya telah menduga bahwa Dian akan segera menemuinya untuk berbaikan. Dian pun tak menolak saat dirinya ditarik ke mobil Erik yang segera melaju entah kemana, dia seperti terhipnotis. Dian menatap Erik yang sedang mengemudikan mobil, Erik pun meliriknya dan Dian segera membuang muka ke jendela. Terasa sentuhan hangat di bahu Dian yang membuatnya terkejut, ternyata itu adalah tangan Erik. Dian segera menoleh ke arahnya, Erik hanya tersenyum polos. Dian mencium bau parfum Erik dari lengan bajunya itu. Dian seakan ingat bau itu, sesuatu yang ada diingatannya yang hilang. Dian kembali menatap Erik dan tiba-tiba potongan ingatan kembali menghapiri Dian. Erik kembali muncul dalam ingatan Dian, Erik berada sangat dekat dengan Dian, dia berada di depan Dian dan Dian memeluknya erat. Suasananya sangat aneh, Dian mengingat tembok putih dengan tangga kecil yang melekat padanya. Dian seakan tak percaya dengan potongan ingatan itu, mungkinkah itu hanya bagian dari mimpinya atau sebuah ingatan masa lalunya?.
            “Erik, apa kita pernah terlibat dalam situasi yang cukup dekat sebelum ini?, tanya Dian penasaran.
            “maksudmu?”, tanya Erik bingung.
            “iya, sesuatu seperti berpelukan, sesuatu yang sedekat itu”
            “oh itu, ya ada sekali, tapi aku tak ingin menceritakannya padamu, aku takut kamu marah”, jawab Erik.
            “kenapa aku marah?”, tanya Dian tak puas.
            “mungkin bagimu itu adalah ingatan buruk, lebih baik kamu melupakannya”
            Dian tak mengerti dengan perkataan Erik itu. Apakah cerita masa lalunya bersama Erik begitu buruk. Dian mulai khawatir dengan ingatannya, dia takut saat ingatannya kembali hubungannya dengan Erik kembali rusak. Erik terlihat menyimpan cerita lain dari hidup Dian. Dia berusaha menutupi sesuatu yang dianggapnya buruk.
           Erik menepikan mobilnya di sebuah taman yang dipenuhi pepohonan yang sedang gugur. Angin semilir yang datang menjatuhkan satu persatu dedaunan tua. Dian terpana melihat suasana itu. Tepat ketika mereka berdiri di depan papan Wellcome Dian seakan sedang menatap lukisan Erik tadi. Pohon yang  berjejer rapi, dedauan yang berguguran dan warna jingga langit sore yang terlihat sama dengan suasana yang sedang dinikmatinya.
            “ayo kita mulai”, ajak Erik bersemangat.
            “mulai apa?”, tanya Eka bingung.
            “mengumpulkan dedauan kering dengan kombinasi warna coklat, hijau, kuning”, kata Erik.
            “daun? Untuk apa?”
            “kamu lupa Dian, untuk Puzzle”
            “oh ya, aku lupa kamu telah mengatakannya tadi”
            Dian terlihat bersemangat memilah-milah daun yang sesuai dengan perintah Erik. Erik mulai menggoda Dian dengan menyodorkan daun kering yang dihinggapi ulat. Dian langsung lari menjauh dan membalas Erik dengan melempar ranting pohon. Mereka tampak menikmati suasana sore di sana.
            Tiba-tiba smartphone Erik berbunyi, wajah Erik langsung berubah dingin. Tak jelas siapa yang mengubunginya hanya saja dia menjawab dengan kata ‘Ok’.
            “Dian, aku ada urusan mendadak, kamu pulang naik taksi saja ya, aku sudah pesankan”, jelas Erik singkat.
            “baiklah”, jawab Dian.
            Dian tak punya pilihan lain, Erik segera pergi meninggalkan Dian yang masih menuggu taksi. Dian pun sampai di rumah dengan membayar taksi menggunakan kartu gesek Erik yang tadi sempat diberikannya.
            Dian menunggu Erik untuk makan malam hingga larut. Jarum jam telah pindah pada angka 11 namun Erik masih belum terlihat. Dian melihat ke jendela dan berharap mobil Erik telah parkir di sana namun harapan tinggal harapan. Dian akhirnya masuk ke kamarnya  dan segera tidur.
            Esok hari Dian telah menunggu Erik di meja makan untuk sarapan tapi Erik masih juga belum muncul. Asisten rumah tangga memberitahunya bahwa Erik telah berangkat kerja tadi pagi. Sontak Dian terkejut karena Erik telah pergi lagi. Dian kemudian menghabiskan waktu dengan mengamati lukisan-lukisan Erik. Dimulai dari lukisan pohon dengan daun yang berguguran waktu itu, Dian melihat angka-angka yang ditempatkan di pojok kanan bawah lukisan. Angka itu adalah tanggal kemarin. Apakah itu artinya lukisan itu dibuat pada tanggal itu atau telah menjadi kenyataan pada tanggal itu?. Dian segera melihat lukisan-lukisan yang lain, terdapat dua tanggal pada lukisan yang lain, seperti tanggal pembuatan dan tanggal telah realisasinya. Dian mulai mengamati lukisan yang lain, terlihat lukisan sebuah cafe kopi yang terlihat familiar bagi Dian, di sana terlihat juga beberapa orang yang mengenakan pakaian seperti seragam kepolisian sedang menikmati minumannya. Dian melirik tanggal, tanggal pembuatannya hanya berselang 1 bulan lebih sedikit dari tanggal realisasinya. Tahun lukisan itu sudah cukup lama yaitu sekitar dua tahun yang lalu.
            Apa maksud lukisan itu? Apakah Erik sedang menjalanjan bisnis cafe kopi? Dian beranjak ke lukisan yang lain, namun tiba-tiba suara pria mengejutkan Dian.
            “hai”, sapa Erik.
            “h-hai”, sapa Dian gugup.
            “kamu suka lukisanku?, tanya Erik.
            “hmm ya, lukisannya bagus, oh kenapa dengan tanganmu?”, tanya Dian panik saat melirik pada lengan kiri Erik yang diperban.
            “oh ini Cuma kecelakaan kerja”, jawabnya singkat.
            “di rumah sakit?”, Dian memastikan.
            “bukan, sudahlah jangan dihiraukan, ini hanya luka kecil”, jawab Erik sambil berlalu meninggalkan Dian.
            Beberapa saat kemudian Erik datang kembali dengan sebuah kotak. Dia berjalan menuju sesuatu yang sangat besar dan tertutup kain putih, sangat besar untuk disebut sebuah lukisan. Erik melepaskan kain itu dan terlihatlah apa yang sebenarnya ada di balik itu. Sebuah sketsa lukisan yang sangat besar dengan gambar dua tangan yang saling berpegangan.

            “ayo kita mulai proyek ini”, ajak Erik.
            “proyek apa?”, tanya Dian bingung.
            “proyek puzzle kita”, jawab Erik dengan menyunggingkan senyuman tipisnya.
            Dalam kotak itu terdapat dedaunan berbagai bentuk dan warna, Dian ingat beberapa diantaranya adalah dedaunan yang diambilnya bersama Erik di taman kemarin. Dian tampak bingung untuk melakukannya, namun Erik terus membimbingnya. Perlahan Dian mulai mengerti konsep dalam menyusun puzzle hingga tercipta perpaduan warna yang pas. Mereka berdua asyik menempelkan potongan daun ke atas sketsa itu.
            “kenapa kamu membuat sketsa ini? Apa artinya bagimu? Apakah ini juga masa depan yang sedang kamu rencanakan?’, tanya Dian penuh selidik.
            “hmmm puzzle ini hanya sebuah harapan, bukan masa depan, ini tak akan menjadi kenyataan”, jawab Erik kalem.
            Dian memandangi puzzle itu, dua tangan yang saling berpegangan seperti melambangkan bersatunya dua insan dalam satu ikatan. Dian terus berpikir tentang itu.
            “apakah puzzle ini menceritakan tentang harapan untuk bersatu?”, Duga Dian.
            “yah, kira-kira seperti itu, kamu cepat sekali memahaminya”, jawab Erik.
            “Erik, apakah wanita yang kamu cintai telah tiada?”
            “bukan seperti itu”
            “lalu?”
            “aku dan dia tak akan bersatu karena kami adalah sisi yang berbeda”
            “maksudmu?”
            “ah, sudahlah, tak ada gunanya kita membahas itu, hanya menambah rasa penyesalan saja”
            “kamu menyesal mencintainya?”
            “bukan itu, aku hanya menyesal menjadi diriku”
            Dian masih tak mengerti dengan pernyataan Erik yang masih sangat membingungkan itu. Tapi Dian tak berniat untuk meneruskan pertanyaannya. Walaupun mereka bersaudara bukan berarti Dian berhak tahu semua cerita kehidupan Erik. Dian pun mengubah topik pembicaraan tentang lukisan cafe kopi yang pernah dilihatnya sebelumnya.
            “oh ya lukisan cafe kopi yang itu (sambil menunjuk) adalah bisnismu ya?”
            “kenapa kamu bisa tahu?”, tanya Erik kaget.
            “ya, karena aku pintar”, canda Dian.
            “hehehe, aku rasa kamu tidak pintar, tapi kuat, karena itu aku menyukaimu”
            “kuat? Maksudmu?”
            “aku hanya bercanda, tapi serius kenapa kamu bisa mengetahuinya?”
            “dari tanggal yang ada di sana, dan dari cerita kamu kemarin bahwa setiap lukisanmu adalah masa depan”
            “oh, hmmm ya itu analisis yang bagus”
           Dian mulai merasa nyaman dengan kehadiran Erik di sampingnya. Dia menatap dalam-dalam wajah Erik yang agak cekung, berharap kenangan yang telah hilang kembali muncul. Erik menyadari tatapan itu.
            “kamu sudah bosan ya?”, tanya Erik.
            “oh.. gak kok”, aku Dian.
            “kamu ingin melakukan hal yang lain?”
            “hmmm hal yang lain, apa ya?”
            Dian mencoba mencari kegiatan lain yang sepertinya menarik untuk dilakukan sore ini. Dian teringat kolam renang, dia mengajak Erik untuk berengan bersama. Erik menerima ajakan itu dengan senang hati.
            “kamu bisa berenang?”, tanya Erik
            “ya, tentu saja”, jawab Dian dengan bangga
            “kalau begitu kita harus bertanding siapa yang pantas dijuluki master renang di rumah ini”, canda Erik.
            “Ok, siapa takut”, tantang Dian.
            Mereka telah berdiri di tepi kolam dan melakukan sedikit pemanasan agar tidak kram. Erik terlebih dahulu membuka baju. Dian yang berada di samping sontak terkejut.
            “ya ampun, tubuhmu penuh bekas luka”, ucap Dian kaget.
            “ah yah, aku senang berpetualang jadi sering luka”, jawab Erik
            “berpetualang apa maksudmu?”, tanya Dian sambil mengerutkan kening.
            “sesuatu yang ingin kita taklukkan, ya pokoknya sesuatu yang menantang”, jelas Erik asal.
            Luka di tubuh Erik sangat beragam, luka membujur horizontal, luka bulat sempurna dan luka bakar. Dari sekian banyak luka itu ada sebuah luka yang mencuri perhatian Dian, tatapannya tak beranjak dari luka itu, luka yang berada di rusuk kirinya.
            “apa yang terjadi dengan rusukmu itu?”, tanya Dian penasaran.
            “patah karena kecelakaan”, jawab Erik singkat dan langsung terjun ke kolam.

            Melihat Erik telah berada di kolam, Dian pun segera membuka baju luarnya dan segera menyusul Erik. Mereka mulai berlomba, Dian memonopoli kemenangan pada pertandingan itu. Gelar master pun dipegang oleh Dian. Tak terima dengan kekalahannya Erik melempar-lempar air ke arah Dian. Mereka pun terlibat pertempuran air yang sengit. Merasakan indahnya kegiatan hari ini Dian yakin hubungan mereka berdua akan menjadi lebih baik nantinya.
            Tak lama kemudian mereka pun menghentikan kegiatan itu. Erik kembali harus meninggalkan Dian di rumah. Andai saja kedua orang tua Erik ada di rumah mungkin Dian tak akan kesepian, sayangnya mereka harus menetap di luar kota untuk waktu yang cukup lama karena tuntutan pekerjaan. Sejak Dian memulai kehidupan dengan ingatan yang baru ini, dia belum pernah bertemu dengan sang ayah ataupun ibu Erik.
            Asisten rumah tangga telah pulang dari tadi sore, Dian hanya tinggal sendiri di rumah menunggu Erik segera pulang. Bosan dengan keadaan yang sunyi di sini, Dian pun memutuskan untuk menonton televisi. Malam ini ternyata jadwal tayang untuk sinetron, beberapa stasiun televisi bahkan menayangkan sinetron impor Turki dan India. Dian sepertinya tidak begitu tertarik dengan sinetron, dia terus menukar-nukar siaran. Akhirnya dia berhenti di sebuah stasiun televisi yang sedang menayangkan berita. Itu adalah berita tentang kecelakaan dua Bus yaitu Bus Sari Sejati dengan Bus Indah Pelita. Dian ingat, Erik telah menceritakan bahwa Dian kehilangan ingatan karena kecelakaan Bus  saat menumpangi Bus Indah Pelita. Meskipun mengalami amnesia Dian sama sekali tak mengalami luka yang serius, hanya memar di bagian kepala. Kecelakaan itu terjadi lima hari yang lalu. Banyaknya korban tewas dan luka bakar yang menjadi berita kecelakaan itu masih hangat untuk ditayangkan di televisi. Kecelakaan itu menimbulkan spekulasi yang menarik bagi para pengamat karena adanya dugaan aksi bunuh diri sopir Bus Sari Sejati. Polisi sedang menyelidiki kediaman dan keluarga dari sopir yang ikut tewas dalam kecelakaan itu. Selain itu beberapa orang dilaporkan hilang karena banyak mayat yang masih belum dapat diidentifikasi. Dian bersyukur masih bisa selamat dari kecelakaan yang mengerikan itu, tabrakan yang diikuti ledakkan. 
           Setelah puas menonton acara berita Dian teringat lukisan-lukisan Erik yang berada di studio. Masih banyak lukisan yang belum dilihatnya, Dian sangat tertarik mengetahui apa-apa saja yang telah terwujud menjadi kenyataan. Dian merasa kecewa setelah sampai di depan pintu studio, pintu itu terkunci, sayang sekali. Dian pun memutar langkahnya ke kamar Erik. Dian berharap beberapa lukisan juga disimpan di kamar itu. Namun harapan Dian hanya tinggal harapan. Kamar Erik terlihat sangat bersih dari unsur lukisan. Sebuah kamar dengan atribut yang sangat minim, tempat tidur, lemari dan sebuah meja lampu. Dian merebahkan tubuhnya ke atas kasur yang terasa sangat empuk. Dia menatap langit-langit yang bercat putih. Kemudian dia memutar tubuhnya menghadap ke bantal di sampingnya. Dian berpikir sejenak tentang masa depannya. Apa yang harus dilakukannya untuk memulai kehidupan baru ini? ‘Mungkin aku harus kembali memulai dari pekerjaanku, aku akan kembali menjadi guru SD’, gumam Dian dalam hari. Hanya saja semua barang-barang penting Dian telah hangus terbakar saat kecelakaan itu. Hari kecelakaan itu adalah hari disaat Dian dan Erik bertengkar, Dian memutuskan untuk pulang kembali ke rumah neneknya dengan menumpangi Bus Pelita Indah. Sehingga tak ada satupun barang-barang Dian yang tersisa di rumah itu. Begitulah cerita Erik untuk memberikan alasan pada Dian. Tapi kehilangan ijazah itu tak akan menghambat untuk Dian bisa kembali bekerja, dia hanya perlu kembali ke universitasnya untuk meminta ijazah kembali, meskipun akan memakan waktu yang cukup lama. Dian telah memantapkan niatnya untuk kembali mengurus ijazahnya esok hari.
            Dian mengambil sebuah bantal di atas kasur itu dan segera memeluknya. Di balik bantal itu terlihat sebuah buku gambar yang langsung menarik perhatiannya. Dian segera mengambil dan membukanya. Halaman pertama terlihat sebuah lukisan dengan pensil tanpa warna yang menggambarkan situasi kota yang sibuk, terlihat mobil memenuhi jalan dan jembatan. Dian melihat ada dua tanggal pada gambar itu, hanya berselang sehari. Dari tanggal itu menunjukkan kejadian itu telah terjadi enam bulan yang lalu. Apa maksud dari gambar itu, tak ada yang aneh dengan kesibukan sebuah kota. Mungkin saja Erik berharap bisa mengunjungi kota itu dan harapan itu terwujud besoknya. Dian melanjutkan membalik halaman buku itu. Dian kaget dan langsung bangun dari posisi berbaringnya. Dian menatap tak percaya gambar itu. sebuah rumah yang penuh dengan api yang sedang menyala dengan marahnya. Selang waktunya adalah tiga hari, telah terjadi tiga bulan yang lalu. Dian merinding melihat gambar itu. Dian kembali membalik halaman pertama dan mengamati gambar itu kembali, terlihat sebuah goresan. Ternyata itu menggambarkan sebuah mobil yang meluncur dari jembatan. Dian merasa tak percaya dengan pemahamannya sendiri. Dia segera membalik halaman lain, gambar mayat yang tergeletak berserakan disebuah ruangan segera memacu kencang detak jantungnya. Dengan nafas yang berat Dian membalik halaman buku itu, sebuah gambar gedung mall bernama “The Rimbang” dipenuhi mobil polisi. Dian merasa mengenal gedung itu. Potongan ingatan Dian kembali bermunculan, seorang gadis kecil menutup telinga dengan tubuh yang menggigil ketakukan, orang-orang berlari ketakutan. Rombongan orang berbaju biru tua menodongkan senjata ke arah mereka. Dian diserang ingatannya secara brutal. Seorang dari rombongan itu menodongkan senjatanya pada Dian dan mereka pergi menjauh dari keramaian itu. Dian menendang orang bertopeng itu dengan tangan diborgol. Terdengan jeritan kesakitan dan darah segar membasahi pakaian orang itu. Segera dia melepaskan topengnya dan wajah Erik terlihat jelas di ingatan Dian itu. Tarikan nafas Dian terasa sangat cepat, tubuhnya mulai menggigil ketakutan. Tiba-tiba suasan langsung berubah gelap. Dian kehilangan penglihatannya, sesuatu yang kuat memegang tubuhnya, dia langsung kesulitan untuk bernafas seperti ada yang telah menutup mulut dan hidungnya.
            Dian membuka matanya terlihat sinar matahari telah memasuki kamarnya. Diliriknya jam di atas meja, jarumnya telah menunjukkan angka 9. Dian masih menggeliatkan tubuhnya dengan malasnya. Akhirnya Dian pun bangkit dan membuka pintu kamarnya. Alangkah terkejutnya dia saat melihat tak ada satupun perabot yang tersisa di rumah itu. Dian segera berlari ke kamar Erik yang ternyata juga telah kosong. Dia kembali ke kamarnya yang masih seperti sebelumnya. Di atas meja terlihat secarik kertas dan kantong plastik.
            Terima kasih untuk semuanya, kita akan bertemu lagi (Hero)

            ‘Hero’? Dian sangat mengenal nama itu tapi siapa? Dimana?. Segera dibukanya kantong plastik itu yang ternyata berisi beberapa barang diantaranya: jam tangan, tas, dompet, dan smartphone yang telah pecah lcd nya. Langsung saja Dian membuka dompet itu dan menemukan sebuah kartu identitas yang membuatnya terpana tak percaya. Identitas dengan foto dirinya namun dengan nama Eka Fitri. Kilasan balik masa depannya terlihat melintas di dalam otaknya dengan kecepatan yang tak terkendali. Dian tak kuasa menahan rasa sakit di kepalanya hingga dia kehilangan kesadaran.
>>>>>>>bersambung ke part 2
cast:
1. Dian
2. Erik

No comments:

Post a Comment