Monday, 16 November 2015

Sisi yang Berbeda (Part 2 - Mall Rimbang)

             Pada sore hari akhirnya Eka selesai bertugas untuk hari ini. Dia terlihat membereskan mejanya dan mengambil tasnya. Selesai mengganti pakaian segaramnya dia segera bergegas menuju pintu keluar.
            “polwan cantik udah mau pulang ya?, biar aku antar”, ajak pria yang masih mengenakan seragam.
            “gak usah, aku bisa pulang sendiri”, ujar Eka sambil berlalu.
            “nanti malam kamu ada acara Eka, ada film baru, nonton yuk?”, ajaknya kembali.
            “aku sudah janji nonton di rumah dengan temanku”, jawab Eka sambil melambaikan tangannya dan pergi.
            Rudi memang tak pernah menyerah mendekati Eka, meskipun Eka selalu mengacuhkannya. Sayangnya Rudi tak hanya harus bisa memikat hati Eka tapi harus bersaing dengan rekan-rekannya yang lain, yang nampaknya juga menaruh hati pada Eka.

            Eka memarkir motornya di depan sebuah Mall yang sangat terkenal di kota itu. Mall berlantai tujuh yang sanggup memanjakan pengunjungnya dengan segala produk-produk yang ditawarkannya. Siap-siap untuk terkejut ketika melihat saldo kreditmu yang akan menggunung di rekeningmu. Eka selalu membertimbangkan setiap membeli barang-barang. Hari itu Eka berencana akan membelikan sebuah kado untuk ponakannya yang sedang berulang tahun. Eka telah sampai di lantai 3 tempat dimana semua mainan terbaru berkumpul. Perhatian Eka tertuju pada sebuah bola basket mini lengkap dengan ringnya. Eka langsung membawanya ke depan meja kasir.
            Antrian di meja kasir cukup panjang, butuh kesabaran untuk menyelesaikan pembayaran ini. Dari kejauhan Eka melihat rombongan berbaju hitam menyerbu secara brutal dan menodongkan senjata pada pengunjung yang ditemuinya. Terdengar suara letusan senjata yang mengerikan. Seseorang dari rombongan itu mendekati Eka dan memaksa mereka untuk berkumpul di tengah ruangan dengan posisi duduk di lantai. Eka terus mencari kesempatan untuk melumpuhkan orang bertopeng yang berada di dekatnya. Perhatian Eka pecah karena seorang gadis kecil yang berada di sampingnya mulai menangis ketakutan.
            “jangan menangis sayang, ayo dekat ke sini”, bisik Eka
            “ibuku hilang kak....hu..hu..hu”, isaknya sambil mendekati Eka.
            Eka tak tega melihat gadis itu, dia segera mendekapnya berharap ketakutan gadis itu dapat berkurang. Tiba-tiba orang bertopeng biru tua mendekatinya.
            “biar aku yang jaga di sini, kau ambil alih yang di E7”, perintah pria bertopeng biru tua.
            “baiklah Hero”, jawab pria bertopeng hitam dan segera berlari menjauh.
            Pria bertopeng itu langsung mendekati Eka dan merebut gadis kecil yang berada di sampingnya.
            “keluarkan pistolmu polwan!”, perintahnya sambil menodongkan pistolnya di kepala gadis kecil itu.
            “lepaskan gadis kecil itu!”, teriak Eka cemas.
            Eka terkejut tidak kepalang, bagaimana pria ini tahu bahwa dia adalah seorang polwan. Dengan putus asa Eka mengeluarkan pistolnya dan segera pria itu merebutnya.
            “kau ikut aku!”, perintahnya pada Eka.
            Eka tak punya pilihan lain, dia berjalan sesuai perintah pria itu dengan tangan memegang kepala. Mereka berdua menuju tempat kosong di ruangan lain. Eka melihat kesempatan untuk melumpuhkannya. Segera dia melakukan perlawanan dengan menangkis pistolnya. Pria itu tidak tinggal diam, dia balik mengunci pergerakan Eka dengan memutar lengan Eka dan dengan sigap pria itu mengambil borgol yang terselip di pinggang Eka. Dengan cepatnya dia segera memborgol Eka pada sebuah tiang besi di ruangan itu. Eka yang tak terima dengan kekalahannya segera menendang pria itu tepat pada rusuk kirinya. Pria itu mengerang kesakitan dan memegang erat rusuknya. Seketika darah segar merembers dari pakaiannya. Eka terkejut mendapati pria itu berdarah hanya dengan tendangannya. Pria itu segera membuka topengnya dan mendekati Eka dengan wajah garangnya.
            “akulah Hero, ingat itu!,” bisik pria itu di telinga Eka.
            Eka tak bergeming dan membuang pandangannya. Pria itu segera meninggalkan Eka yang terus menggeliat berharap bisa lepas dari borgol itu. Waktu terus berlalu, Eka masih tetap berdiri disana. Eka memandang dari jendela di sampingnya, terlihat dari kejauhan mobil polisi dengan sirinenya telah memenuhi tempat parkir. Tak tahu pasti apa yang sedang terjadi, Eka hanya terus menunggu berharap sesorang menemukannya.
            Akhirnya seorang polisi muncul di depannya dan segera membebaskannya dari borgol itu. Mereka berdua segera berlari menuju pintu keluar. Terlihat suasana yang kacau, polisi berusaha mengamankan para sandera dan sebagian lagi berlari mencari rombongan perampok itu. Di luar Eka melihat Pak Gusti, dia adalah atasan Eka.
            “bagaimana keadaanmu Eka? Ada yang terluka?”, tanya pria itu khawatir.
            “saya baik-baik saja Pak, bagaimana keadaannya Pak?”,tanya Eka
            “belum ada kabar, tak ada rombongan perampok yang ditemukan, tiba-tiba mereke menghilang”,
            “menghilang bagaimana Pak?”
            “entahlah, tim telah menyisir setiap sudut ruangan dan tak menemukan mereka satu pun”
            “mereka dapat meloloskan diri?”
            “sepertinya begitu, barusan saya dapat kabar, sebuah mobil box melintas dengan kecepatan tinggi, saksi menuturkan mobil box itu tadi parkir tak jauh dari balik Mall ini, kita sedang mengejarnya”
            Tim pun keluar dengan tangan kosong. Eka segera bergabung dengan rekannya yang baru saja datang.
            “cepat sekali kamu datang Eka?”, tanya seorang wanita diantara rombongan itu.
            “bukan begitu, aku terjebak dalam insiden ini Wi”
            “benarkah?”
            Wanita itu adalah rekannya dalam tim investigasi. Tim itu berjumlah lima orang dengan tiga pria. Mereka segera memasang garis polisi untuk mengamankan lokasi. Karena luasnya area yang akan diselidiki polisi pun membentuk tim investigasi kedua yang akan segera datang sesaat lagi. Mereka bekerja sesuai prosedur termasuk mengumpulkan bukti-bukti yang relevan.
***
            Di kantor Eka segera menceritakan pengalamannya pada atasan dan rekannya. Hingga sampailah pada cerita penyanderaan dirinya oleh pria bertopeng biru tua, ketika Eka menyebutkan nama ‘Hero’, tiba-tiba Hanif salah seorang rekannya langsung buka suara sehingga mengejutkan semua orang.
            “apa kamu bilang? Hero? Kamu serius?”, tanyanya dengan suara yang menggema
            “ya tentu saja, aku mendengarnya dengan sangat jelas”
            “aku dengar kasus Hero ini masih belum terpecahkan di sektor 3”
            “kasus apa itu?”, tanya Rudi penasaran.
            “itu adalah kasus bisnis ilegal dan obat-obatan terlarang”, jelas Pak Gusti.
            “lalu apa maksudnya belum terpecahkan Pak?”, tanya Eka
            “jaringan bisnis itu tertata rapi, intel telah mencoba memasukinya namun gagal, dua dari lima intel yang ditugaskan hampir kehilangan nyawa karena kecurigaan mereka, bisnis itu di kendalikan oleh seseorang bernama Hero, itulah info yang kami terima dari intel yang tersisa, tak banyak informasi yang dapat diperoleh karena mereka berada pada posisi yang tidak strategis, sampai hari ini tak pernah ada yang tahu siapa itu Hero, wajahnya, suaranya dan identitasnya, hanya satu yang kita tahu dia adalah seorang pria”, jelas Pak Gusti.
            “bagus sekali kamu langsung bertemu dan melihat wajahnya Eka, kita bisa menemukannya dengan mendesain sketsa wajahnya”, sambung Daniel yang dari tadi terus melipat tangannya.
            “kau yakin itu akan berhasil? Kau tahu Eka sangat lemah dalam deskripsi wajah”, sanggah Dewi.
            Suasana menjadi hening seketika setelah mendengar penjelasan Dewi, mata saling menatap aneh dan berakhir pada Eka.
            “kita  perlu mencobanya!”, perintah Pak Gusti.
            Seorang ahli sketsa telah datang, Eka pun mengikutinya dengan ragu. Sambil menunggu Eka rekannya yang lain meneruskan pekerjaannya. Daniel dan Dewi terlihat sibuk dengan komputer di depannya, mereka mengotak-atik video-video cctv mall itu. Akhirnya pada puncak kelelahan mereka pun saling menatap tak percaya dengan pemahaman mereka terhadap video itu.
            “Pak kami telah memecahkan misteri itu”, teriak Dewi
            “apa itu?”, tanya Pak Gusti sambil berlari menghampiri mereka.
            “lihat Pak, mereka mengelabui kita dengan mengganti pakaiannya dan kembali membaur dengan sandera”, jelas Daniel.
            “astaga, pantas saja saat mobil box itu digeledah tidak ada isinya, ternyata itu hanyalah pengalih perhatian”
            “tapi bagaimana mereka bisa lolos, padahal semua sandera telah didata dan tak ada yang mencurigakan”, potong Hanif yang baru saja bergabung ke meja Dewi.
            “itu bisa saja terjadi jika ada kendaraan lain yang membawa mereka”, sambung Rudi.
            “setahuku hanya ada mobil polisi dan ambulans yang standby di luar”, lanjut Dewi.
            “AMBULANS!”, teriak mereka serempak.
            Pak Gusti segera memanggil bagian IT untuk menganalisis rekaman cctv itu dan memanipulasi gambar hingga bisa dijadikan petunjuk. Eka telah keluar dari ruangan pembuatan sketsa dengan wajah yang tak dapat didefenisikan. Rekan-rekannya lantas segera menyerbu sang ilustrator. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat sketsa itu. Mereka langsung Saling menatap aneh dan mengakhiri tatapan pada Rudi.
            “Rudi?, ternyata kaulah yang selama ini kita cari.”, canda Hanif.
            “gila aja, Eka sungguh keterlaluan, tampang seganteng ini malah dibikin mirip penjahat”, kata Rudi ketus.
            Mereka  lalu kompak tertawa. Ilustrator menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak puas. Pak Gusti menghela nafas panjang menunjukkan kekecewaannya. Eka tampak kacau, dia berjalan cepat menuju teras kantor dan duduk di bangku. Daniel menghampirinya dengan membawa segelas kopi yang baru di pesannya di cafe sebelah kantor.
            “kopi?”, sapa Daniel.
            “hmm makasih, Dan”, ujar Eka kalem.
            “jangan terlalu dipikirkan”
            “aku hanya kecewa dengan diriku sendiri, untuk hal yang semudah ini aku pun tak bisa”, jelas Eka kesal.
            “semua orang punya kelemahan tersendiri, tak ada yang salah dengan itu”, kata Daniel menenangkan.
            “iya aku tahu, tapi saat ini cuma aku yang tahu wajahnya dan aku tak bisa berbuat apa-apa”
            “tenanglah Eka pasti ada cara lain, sekarang lebih baik kita fokus pada kasus penikaman suami istri yang masih dirawat itu”, bujuk Daniel.
            “oh ya aku sampai lupa, ayo!”, kata Eka sambil bangkit dari duduk.
***
            Pihak inteligen mendapat kabar bahwa Eka adalah satu-satunya orang yang pernah melihat wajah Hero. Segera perwakilan dari mereka menemui Pak Gusti dan melakukan pertemuaan tertutup. Sesaat kemudian Eka dipanggil untuk menemui perwakilan tersebut.
            “Betul kamu melihat wajah Hero itu?”, tanya perwakilan yang sedang duduk.
            “iya Pak, saya melihatnya dengan jelas”
            “kalau begitu paling tidak kamu bisa memastikan dari foto-foto ini, semua foto ini adalah orang yang dicurigai oleh agen mata-mata kami sebagai Hero”, kata perwakilan yang berdiri sambil membuka koper.
            Berjajarlah belasan foto di atas meja, satu per satu Eka mulai melihat dan mengamati foto itu. Foto silih berganti diamati namun wajah Hero tak kunjung ditemukan, hingga foto terakhir. Eka pun menutup pengamatan itu dengan gelengan kecewa.
            “ok, tak apa, paling tidak kita tahu orang-orang ini bukan Hero”, kata perwakilan yang duduk tadi.
            “nanti jika ada perkembangan akan saya kabari”, sambung Pak Gusti.
            Malam itu tak ada satupun dari mereka yang kembali ke rumah, mereka memilih untuk istrirahat di kantor saja karena cuaca di luar sedang badai dan waktu juga telah sangat larut untuk berkendara. Eka mencoba memejamkan matanya namun bayangan insiden Mall masih terukir kuat di benakknya. Berkali-kali wajah Hero selalu muncul, wajah yang penuh dengan kelicikan. Eka juga ingat saat dia menendang Hero. Eka segera beranjak dari tidurnya dan berlari membangunkan rekan-rekannya yang lain.

            “aku lupa, aku sempat menedang Hero tepat di rusuknya dan berdarah sepertinya dia telah terluka sebelumnya dan kemungkinan dia kembali ke rumah sakit untuk mengobati lukanya itu!”, teriak Eka.
>>>>bersambung
cast:
1. Eka

2. Rudi
3. Hanif
4. Daniel
5. Dewi
6. Pak Gusti
7. Hero

No comments:

Post a Comment