Pada sore hari akhirnya Eka selesai bertugas untuk hari ini. Dia terlihat
membereskan mejanya dan mengambil tasnya. Selesai mengganti pakaian segaramnya
dia segera bergegas menuju pintu keluar.
“polwan cantik udah mau
pulang ya?, biar aku antar”, ajak pria yang masih mengenakan seragam.
“gak usah, aku bisa pulang
sendiri”, ujar Eka sambil berlalu.
“nanti malam kamu ada
acara Eka, ada film baru, nonton yuk?”, ajaknya kembali.
“aku sudah janji nonton di
rumah dengan temanku”, jawab Eka sambil melambaikan tangannya dan pergi.
Rudi memang tak pernah
menyerah mendekati Eka, meskipun Eka selalu mengacuhkannya. Sayangnya Rudi tak
hanya harus bisa memikat hati Eka tapi harus bersaing dengan rekan-rekannya
yang lain, yang nampaknya juga menaruh hati pada Eka.
Eka memarkir motornya di
depan sebuah Mall yang sangat terkenal di kota itu. Mall berlantai tujuh yang
sanggup memanjakan pengunjungnya dengan segala produk-produk yang
ditawarkannya. Siap-siap untuk terkejut ketika melihat saldo kreditmu yang akan
menggunung di rekeningmu. Eka selalu membertimbangkan setiap membeli
barang-barang. Hari itu Eka berencana akan membelikan sebuah kado untuk
ponakannya yang sedang berulang tahun. Eka telah sampai di lantai 3 tempat
dimana semua mainan terbaru berkumpul. Perhatian Eka tertuju pada sebuah bola
basket mini lengkap dengan ringnya. Eka langsung membawanya ke depan meja
kasir.
Antrian di meja kasir
cukup panjang, butuh kesabaran untuk menyelesaikan pembayaran ini. Dari
kejauhan Eka melihat rombongan berbaju hitam menyerbu secara brutal dan
menodongkan senjata pada pengunjung yang ditemuinya. Terdengar suara letusan
senjata yang mengerikan. Seseorang dari rombongan itu mendekati Eka dan memaksa
mereka untuk berkumpul di tengah ruangan dengan posisi duduk di lantai. Eka
terus mencari kesempatan untuk melumpuhkan orang bertopeng yang berada di
dekatnya. Perhatian Eka pecah karena seorang gadis kecil yang berada di
sampingnya mulai menangis ketakutan.
“jangan menangis sayang,
ayo dekat ke sini”, bisik Eka
“ibuku hilang
kak....hu..hu..hu”, isaknya sambil mendekati Eka.
Eka tak tega melihat gadis
itu, dia segera mendekapnya berharap ketakutan gadis itu dapat berkurang.
Tiba-tiba orang bertopeng biru tua mendekatinya.
“biar aku yang jaga di
sini, kau ambil alih yang di E7”, perintah pria bertopeng biru tua.
“baiklah Hero”, jawab pria
bertopeng hitam dan segera berlari menjauh.
Pria bertopeng itu
langsung mendekati Eka dan merebut gadis kecil yang berada di sampingnya.
“keluarkan pistolmu
polwan!”, perintahnya sambil menodongkan pistolnya di kepala gadis kecil itu.
“lepaskan gadis kecil
itu!”, teriak Eka cemas.
Eka terkejut tidak
kepalang, bagaimana pria ini tahu bahwa dia adalah seorang polwan. Dengan putus
asa Eka mengeluarkan pistolnya dan segera pria itu merebutnya.
“kau ikut aku!”,
perintahnya pada Eka.
Eka tak punya pilihan
lain, dia berjalan sesuai perintah pria itu dengan tangan memegang kepala.
Mereka berdua menuju tempat kosong di ruangan lain. Eka melihat kesempatan
untuk melumpuhkannya. Segera dia melakukan perlawanan dengan menangkis
pistolnya. Pria itu tidak tinggal diam, dia balik mengunci pergerakan Eka
dengan memutar lengan Eka dan dengan sigap pria itu mengambil borgol yang
terselip di pinggang Eka. Dengan cepatnya dia segera memborgol Eka pada sebuah
tiang besi di ruangan itu. Eka yang tak terima dengan kekalahannya segera
menendang pria itu tepat pada rusuk kirinya. Pria itu mengerang kesakitan dan
memegang erat rusuknya. Seketika darah segar merembers dari pakaiannya. Eka
terkejut mendapati pria itu berdarah hanya dengan tendangannya. Pria itu segera
membuka topengnya dan mendekati Eka dengan wajah garangnya.
“akulah Hero, ingat itu!,”
bisik pria itu di telinga Eka.
Eka tak bergeming dan
membuang pandangannya. Pria itu segera meninggalkan Eka yang terus menggeliat
berharap bisa lepas dari borgol itu. Waktu terus berlalu, Eka masih tetap
berdiri disana. Eka memandang dari jendela di sampingnya, terlihat dari
kejauhan mobil polisi dengan sirinenya telah memenuhi tempat parkir. Tak tahu
pasti apa yang sedang terjadi, Eka hanya terus menunggu berharap sesorang
menemukannya.
Akhirnya seorang polisi
muncul di depannya dan segera membebaskannya dari borgol itu. Mereka berdua
segera berlari menuju pintu keluar. Terlihat suasana yang kacau, polisi
berusaha mengamankan para sandera dan sebagian lagi berlari mencari rombongan
perampok itu. Di luar Eka melihat Pak Gusti, dia adalah atasan Eka.
“bagaimana keadaanmu Eka?
Ada yang terluka?”, tanya pria itu khawatir.
“saya baik-baik saja Pak,
bagaimana keadaannya Pak?”,tanya Eka
“belum ada kabar, tak ada
rombongan perampok yang ditemukan, tiba-tiba mereke menghilang”,
“menghilang bagaimana
Pak?”
“entahlah, tim telah
menyisir setiap sudut ruangan dan tak menemukan mereka satu pun”
“mereka dapat meloloskan
diri?”
“sepertinya begitu,
barusan saya dapat kabar, sebuah mobil box melintas dengan kecepatan tinggi,
saksi menuturkan mobil box itu tadi parkir tak jauh dari balik Mall ini, kita
sedang mengejarnya”
Tim pun keluar dengan
tangan kosong. Eka segera bergabung dengan rekannya yang baru saja datang.
“cepat sekali kamu datang
Eka?”, tanya seorang wanita diantara rombongan itu.
“bukan begitu, aku
terjebak dalam insiden ini Wi”
“benarkah?”
Wanita itu adalah rekannya
dalam tim investigasi. Tim itu berjumlah lima orang dengan tiga pria. Mereka
segera memasang garis polisi untuk mengamankan lokasi. Karena luasnya area yang
akan diselidiki polisi pun membentuk tim investigasi kedua yang akan segera
datang sesaat lagi. Mereka bekerja sesuai prosedur termasuk mengumpulkan
bukti-bukti yang relevan.
***
Di kantor Eka segera
menceritakan pengalamannya pada atasan dan rekannya. Hingga sampailah pada
cerita penyanderaan dirinya oleh pria bertopeng biru tua, ketika Eka
menyebutkan nama ‘Hero’, tiba-tiba Hanif salah seorang rekannya langsung buka
suara sehingga mengejutkan semua orang.
“apa kamu bilang? Hero?
Kamu serius?”, tanyanya dengan suara yang menggema
“ya tentu saja, aku
mendengarnya dengan sangat jelas”
“aku dengar kasus Hero ini
masih belum terpecahkan di sektor 3”
“kasus apa itu?”, tanya
Rudi penasaran.
“itu adalah kasus bisnis
ilegal dan obat-obatan terlarang”, jelas Pak Gusti.
“lalu apa maksudnya belum
terpecahkan Pak?”, tanya Eka
“jaringan bisnis itu
tertata rapi, intel telah mencoba memasukinya namun gagal, dua dari lima intel
yang ditugaskan hampir kehilangan nyawa karena kecurigaan mereka, bisnis itu di
kendalikan oleh seseorang bernama Hero, itulah info yang kami terima dari intel
yang tersisa, tak banyak informasi yang dapat diperoleh karena mereka berada
pada posisi yang tidak strategis, sampai hari ini tak pernah ada yang tahu
siapa itu Hero, wajahnya, suaranya dan identitasnya, hanya satu yang kita tahu
dia adalah seorang pria”, jelas Pak Gusti.
“bagus sekali kamu
langsung bertemu dan melihat wajahnya Eka, kita bisa menemukannya dengan
mendesain sketsa wajahnya”, sambung Daniel yang dari tadi terus melipat
tangannya.
“kau yakin itu akan
berhasil? Kau tahu Eka sangat lemah dalam deskripsi wajah”, sanggah Dewi.
Suasana menjadi hening
seketika setelah mendengar penjelasan Dewi, mata saling menatap aneh dan
berakhir pada Eka.
“kita perlu mencobanya!”, perintah Pak Gusti.
Seorang ahli sketsa telah
datang, Eka pun mengikutinya dengan ragu. Sambil menunggu Eka rekannya yang lain
meneruskan pekerjaannya. Daniel dan Dewi terlihat sibuk dengan komputer di
depannya, mereka mengotak-atik video-video cctv mall itu. Akhirnya pada puncak
kelelahan mereka pun saling menatap tak percaya dengan pemahaman mereka
terhadap video itu.
“Pak kami telah memecahkan
misteri itu”, teriak Dewi
“apa itu?”, tanya Pak
Gusti sambil berlari menghampiri mereka.
“lihat Pak, mereka
mengelabui kita dengan mengganti pakaiannya dan kembali membaur dengan
sandera”, jelas Daniel.
“astaga, pantas saja saat mobil
box itu digeledah tidak ada isinya, ternyata itu hanyalah pengalih perhatian”
“tapi bagaimana mereka
bisa lolos, padahal semua sandera telah didata dan tak ada yang mencurigakan”,
potong Hanif yang baru saja bergabung ke meja Dewi.
“itu bisa saja terjadi
jika ada kendaraan lain yang membawa mereka”, sambung Rudi.
“setahuku hanya ada mobil
polisi dan ambulans yang standby di luar”, lanjut Dewi.
“AMBULANS!”, teriak mereka
serempak.
Pak Gusti segera memanggil
bagian IT untuk menganalisis rekaman cctv itu dan memanipulasi gambar hingga
bisa dijadikan petunjuk. Eka telah keluar dari ruangan pembuatan sketsa dengan wajah yang tak dapat
didefenisikan. Rekan-rekannya lantas segera menyerbu sang ilustrator. Alangkah terkejutnya
mereka saat melihat sketsa itu. Mereka langsung Saling menatap aneh dan
mengakhiri tatapan pada Rudi.
cast:
1. Eka
2. Rudi
3. Hanif
4. Daniel
5. Dewi
6. Pak Gusti
7. Hero
“Rudi?, ternyata kaulah
yang selama ini kita cari.”, canda Hanif.
“gila aja, Eka sungguh
keterlaluan, tampang seganteng ini malah dibikin mirip penjahat”, kata Rudi
ketus.
Mereka lalu kompak tertawa. Ilustrator menggeleng-gelengkan
kepala tanda tidak puas. Pak Gusti menghela nafas panjang menunjukkan
kekecewaannya. Eka tampak kacau, dia berjalan cepat menuju teras kantor dan
duduk di bangku. Daniel menghampirinya dengan membawa segelas kopi yang baru di
pesannya di cafe sebelah kantor.
“kopi?”, sapa Daniel.
“hmm makasih, Dan”, ujar
Eka kalem.
“jangan terlalu dipikirkan”
“aku hanya kecewa dengan
diriku sendiri, untuk hal yang semudah ini aku pun tak bisa”, jelas Eka kesal.
“semua orang punya
kelemahan tersendiri, tak ada yang salah dengan itu”, kata Daniel menenangkan.
“iya aku tahu, tapi saat
ini cuma aku yang tahu wajahnya dan aku tak bisa berbuat apa-apa”
“tenanglah Eka pasti ada
cara lain, sekarang lebih baik kita fokus pada kasus penikaman suami istri yang
masih dirawat itu”, bujuk Daniel.
“oh ya aku sampai lupa,
ayo!”, kata Eka sambil bangkit dari duduk.
***
Pihak inteligen mendapat
kabar bahwa Eka adalah satu-satunya orang yang pernah melihat wajah Hero. Segera
perwakilan dari mereka menemui Pak Gusti dan melakukan pertemuaan tertutup. Sesaat
kemudian Eka dipanggil untuk menemui perwakilan tersebut.
“Betul kamu melihat wajah
Hero itu?”, tanya perwakilan yang sedang duduk.
“iya Pak, saya melihatnya
dengan jelas”
“kalau begitu paling tidak
kamu bisa memastikan dari foto-foto ini, semua foto ini adalah orang yang
dicurigai oleh agen mata-mata kami sebagai Hero”, kata perwakilan yang berdiri
sambil membuka koper.
Berjajarlah belasan foto
di atas meja, satu per satu Eka mulai melihat dan mengamati foto itu. Foto
silih berganti diamati namun wajah Hero tak kunjung ditemukan, hingga foto
terakhir. Eka pun menutup pengamatan itu dengan gelengan kecewa.
“ok, tak apa, paling tidak
kita tahu orang-orang ini bukan Hero”, kata perwakilan yang duduk tadi.
“nanti jika ada
perkembangan akan saya kabari”, sambung Pak Gusti.
Malam itu tak ada satupun
dari mereka yang kembali ke rumah, mereka memilih untuk istrirahat di kantor
saja karena cuaca di luar sedang badai dan waktu juga telah sangat larut untuk
berkendara. Eka mencoba memejamkan matanya namun bayangan insiden Mall masih
terukir kuat di benakknya. Berkali-kali wajah Hero selalu muncul, wajah yang penuh
dengan kelicikan. Eka juga ingat saat dia menendang Hero. Eka segera beranjak
dari tidurnya dan berlari membangunkan rekan-rekannya yang lain.
“aku lupa, aku sempat
menedang Hero tepat di rusuknya dan berdarah sepertinya dia telah terluka
sebelumnya dan kemungkinan dia kembali ke rumah sakit untuk mengobati lukanya
itu!”, teriak Eka.
>>>>bersambungcast:
1. Eka
2. Rudi
3. Hanif
4. Daniel
5. Dewi
6. Pak Gusti
7. Hero








No comments:
Post a Comment